Tak Sadar ‘Diajarkan’ Rasis Sejak Kecil? Stop Racism!

19 Sep 2017

Source : Voiceofyouth

 

Tuhan tidak pernah menciptakan sesuatu yang sia - sia, begitulah kata orang bijak terdahulu. Di dunia ini tidak ada satupun ciptaan tuhan yang gagal , semuanya tercipta dengan  sangat sempurna bahkan sampai detail - detail yang tak pernah kita pikir sedikitpun. Misalnya kotoran sapi, dari namanya saja kita sudah tau kalau itu hanya sebuah hal atau sesuatu yang bau, nggak berguna, menjijikkan dan sebagainya. Tapi di balik wujudnya yang abstrak dan aroma yang kurang sedap, tuhan melebihkan kotoran tersebut menjadi hal yang lebih berguna seperti menjadi pupuk kompos dan bahkan bisa dimanfaatkan menjadi gas alami.

 

 

Begitu pula dengan manusia, sudah sejak dulu kasus rasis dan sara berlangsung padahal  tuhan menciptakan manusia berpasang - pasangan dengan sempurna dan tidak kurang suatu apapun. Ada pria, perempuan, kulit putih, kulit coklat, kulit gelap, rambut keriting, rambut lurus, mata sipit, mata lebar, pendek, tinggi dan lainnya. Terus dimana kesalahan mereka sehingga “layak” untuk kita berbuat rasis dan sara? Bukankah kita semua sama - sama ciptaan tuhan, yang membedakannya hanyalah perilaku kita yaitu baik atau buruk? Dan mereka mengklaim bahwa ras golongan A lebih baik dari golongan  B. Saya paling kesel kalau ada rasisme atau kasus sara gitu, mereka pikir mereka siapa berhak untuk mengunggulkan rasnya sendiri?

 

 

Nyadar nggak sih kalo sejak kecil kita sudah “diajarkan” rasis? Nggak pernah? Yakin? Coba ingat-ingat lagi? Saya yakin semua pernah mengalaminya. Dulu waktu kita masih kecil ya sekitar 5 - 10 tahunan lah , saat kita lagi seneng - senengnya main keluyuran bersama kawan - kawan sampai lupa waktu untuk makan dan sebagainya. Kebanyakan ibu atau orang tua bilang ” Nak, Jangan main terus makan dulu gih, kalo main jangan di tempat yang panas ntar item ! Nggak cakep lagi”. Ya walaupun nggak semua orang tua begitu ya , tapi setelah saya amati ternyata saya, adik-adik saya, anak tetangga saya mengalami moment tersebut dan bukan nggak mungkin ini juga terjadi pada kalian juga. Meski nggak ada maksud apa - apa dari perkataan tersebut tapi secara nggak langsung kita beranggapan bahwa  siapa yang memiliki kulit yang hitam itu berarti  jelek? Saya heran entah dari mana muncul perkataan ibu atau orang tua tadi? Yang jelas itu nggak baik untuk diucapkan menurut saya.

 

 

Dan otomatis hal tersebut tertanam paham pada otak kita sejak kecil kalau punya kulit gelap nanti bakal nggak ganteng dan cantik lagi? Makanya setelah masa puber mereka berlomba - lomba untuk tampil ganteng dan cantik, di mindset mereka bahwa orang ganteng dan cantik selain memiliki bodi tubuh yang proporsional mereka wajib memiliki kulit mulus dan putih. Bahkan ada yang sampai rela melakukan operasi atau ritual - ritual ekstrem  demi memiliki kulit putih (yang katanya idaman) khususnya buat para wanita ya, nampaknya mereka salah besar dalam mengartikan kecantikan dan ketampanan itu sendiri. Semua cewek terlahir cantik dan cowok terlahir tampan terlepas dari apa golongan mereka.

 

 

Aku paling sebel kalau ada orang yang suka rasis dan sara, mereka tanpa merasa berdosa membully penyandang disabilitas, ngatain orang karena berkulit gelap, jelek - jelekin suku, dan yang lagi hangat - hangatnya itu adalah grup penyebar hoax yakni saracen. Ngeri sekali hal - hal berbau sara sengaja dihembuskan demi segepok uang yang mana hal tersebut berpotensi memecah belah bangsa ini, untuk itu kita harus lebih berhati - hati dalam membaca dan membagikan sebuah berita, telusuri dulu kebenaran berita tersebut benar atau nggak. 

 

Segitu saja sih stop racism stop sara, terima kasih 😊

 


TAGS rasis sara racism deskriminasi stop rasis


-

Author

Follow Me